Selasa, 15 Desember 2020

Tambora: Tahun Tanpa Musim Panas

 

Sumber foto : cathollicnewsagency.com

Pada hari itu, matahari tak jua menunjukan cahayanya tatkala petaka menyembur dari dalam tanah. Seakan tiupan sangkakala telah dikumandangkan, tiga hari tidak berkesudahan. Hari itu, Gunung Tambora telah membawa tamat pada manusia. Sesaat sinar sang surya datang, yang tampak bukanlah Tanah Bima yang tentram, tetapi rumah dan tanaman yang sudah porak-poranda seperti diterjang perang.

10 April 1815, malapetaka yang membawa tamat pada dua negeri: Tambora dan Pekat. Orang mati bergeletakan di jalanan, tidak dikubur maupun didoakan. Kelaparan, kemelaratan dan penyakit juga turut menghantui. Kendati di Tanah Bima, abu letusan Gunung Tambora menutupi langit hingga benua lain. Hingga tahun itu disebut sebagai ‘Tahun Tanpa Musim Panas’ Gunung berapi di dekat garis khatulistiwa dapat menyebabkan perubahan cuaca secara global apabila letusan mereka cukup kuat untuk melepaskan gas ke stratosfer.

Gas tersebut terperangkap karena tidak bisa dibawa oleh hujan. Ia lalu melintasi garis khatulistiwa dan menyebar hingga ke kutub hingga akhirnya mengurangi jumlah panas yang melewati stratosfer dari matahari. Dengan letusan Tambora, suhu menjadi lebih dingin. Total penurunan suhu bumi saat itu mencapai 0,4 sampai 0,7 derajat celsius. Dampaknya adalah kegagalan panen global hingga wabah penyakit.

Menurut Gillen D’Arcy Wood, penulis buku Tambora: The Eruption That Changed the World, selama beberapa tahun berikutnya, korban meninggal semakin banyak akibat efek sekunder yang menyebar ke seluruh dunia. “Dunia semakin dingin dan pola cuaca berubah. Terjadi kegagalan panen dan kelaparan, mulai dari Asia, Amerika Serikat, hingga Eropa,” Kata Wood.

Magnitudo letusan Tambora, berdasarkan Volcanic Explosivity Index (VEI), berada pada skala 7 dari 8, hanya kalah dari letusan Gunung Toba (Sumatera Utara), sekitar 74.000 tahun lalu, yang berada pada skala 8.  Jumlah korban tewas akibat gunung ini sedikitnya mencapai 71.000 jiwa, sebagian ahli menyebut angka 91.000 jiwa. Sebanyak 10.000 orang tewas secara langsung akibat letusan dan sisanya karena bencana kelaparan dan penyakit yang mendera.

Apakah ada letusan gunung berapi yang korbannya lebih banyak dari Tambora? Hingga saat ini, sejarawan setuju bahwa Tambora menyebabkan kematian paling cepat. Dari kejadian letusan Gunung Tambora kita bisa tahu betapa fenomenal nya gunung – gunung api di Indonesia, dan seberapa dahsyat hukuman dari alam. Karena tidak peduli seberapa kuat dan modern manusia pada masanya, pada akhirnya semua akan kalah jika disandingkan dengan kekuatan alam.

Penulis: Kartika Vennasa


 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar