Senin, 09 November 2020

APAKAH CUKUP DEMOKRATIS PEMILU AMERIKA SERIKAT MENGGUNAKAN SISTEM ELECTORAL COLLEGE?

 


Sumber Foto :

Pemilihan presiden di Amerika Serikat  berlangsung pada tanggal 03 November 2020 lalu. Para kandidat presiden memperebutkan suara elektoral. Lalu apakah yang dimaksud dengan suara elektoral? Suara elektoral adalah jumlah suara yang dimiliki oleh setiap negara bagian AS. Jumlah suara ini berbeda-beda di setiap Negara bagian tergantung dari kepadatan penduduknya. Total suara seluruh negara bagian adalah 538 suara.

Suara elektoral merupakan sesuatu yang krusial dalam menentukan siapa yang akan menjadi orang nomor satu di AS kelak, selain popular vote atau suara rakyat yang diambil langsung dari rakyat AS.

Di AS sendiri, California merupakan negara bagian yang memiliki paling banyak suara elektoral, dengan jumlah 55 suara. Sementara yang terkecil dipegang oleh North Dakota, South Dakota, Wyoming, dan Vermont dengan kepemilikan sebesar tiga suara saja.

Dalam pemilihan presiden AS yang biasanya dikuasai dua calon, yaitu dari Partai Republik dan Partai Demokrat, mereka setidaknya harus memegang 270 suara elektoral untuk memenangkan  pilpres AS.

Lalu dari manakah suara elektoral didapatkan? Suara elektoral didapatkan dari popular vote atau suara coblosan rakyat langsung di negara-negara bagian AS.

Untuk mendapatkannya, diberlakukan sistem "the winner take all" atau pemenang meraup semuanya. Jadi kemenangan tipis saja dalam popular vote di sebuah negara bagian dapat mengamankan seluruh suara elektoral negara tersebut. Calon yang kalah tidak akan mendapatkan sedikitpun suara elektoral dari negara bagian tempat si calon kalah, meski kekalahannya tipis.

Ini dia yang menyebabkan Hillary Clinton dikalahkan oleh Donald Trump pada pemilu AS 2016 lalu. Padahal jumlah suara rakyat langsung atau popular vote Hillary lebih tinggi daripada Trump, Namun akibat kemenangan tipis Trump di beberapa negara bagian mengantar Trump melenggang ke Gedung Putih dengan mengantongi 304 suara elektoral.

Meski sudah diterapkan hingga 200 tahun lamanya, bukan berarti sistem Electoral College ini tanpa cela. Banyak kritik dan tentangan terhadap sistem ini. Sistem ini memungkinkan terpilihnya presiden minoritas yang kalah dalam popular vote tetapi menang dalam electoral vote. Mereka adalah Andrew Jackson pada pilpres 1824, Samuel Tilden pada pilpres 1876, Grover Cleveland yang menang dalam pemungutan suara pilpres 1888. Dan, terakhir George W Bush yang menyingkirkan Al Gore pada pilpres 2000.

Pro kontra terhadap sistem Electoral College sudah tidak dapat dipungkiri. Dengan berlakunya sistem ini pada pemilu AS pada tanggal 03 November 2020 lalu terdapat kelebihan dan kekurangan tersendiri yang akan dipaparkan dibawah ini.

Kelebihan dari Sistem Electoral College : 

1. Memberikan Suara bagi Negara Bagian Kecil

Salah satu alasan dari didirikannya electoral college adalah untuk memberikan negara bagian dengan popoulasi yang kecil kesempatan yang sama pada pemilu presiden. Tanpa electoral college, negara-negara bagian kecil ini akan terabaikan. 

2. Memberikan Fokus pada Kandidat

Dengan sistem ini, para kandidat yang mengikuti pemilu presiden dapat mengorganisasikan kampanyenya sehingga memberi gambaran pemetaan politik yang harus dilakukan. 

3. Menghindari Recount atau penghitungan ulang

Penggunaan sistem electoral college dapat mencegah penggelumbungan suara, atau suara palsu, sehingga dapat mencegah dan menghindari recount secara tidak langsung. 

4. Dapat Merepresentasikan Negara sebagai sebuah kesatuan

Dalam artian, electoral college mencegah negara bagian dengan populasi besar untuk memonopoli proses monopoli, sehingga sistem ini dapat mencegah hal tersebut untuk terjadi sebagaimana setiap negara bagian memiliki proporsi yang sesuai.

Kekurangan dari Electoral College : 

1. Suara Individual Tidak Berarti

Meskipun gagasan umum dan tujuan dari didirikannya sistem electoral college merupakan hal yang baik dan adil, tetapi sistem ini juga membuat suara individual menjadi tidak relevan, hal ini dikarenakan apabila suatu negara bagian memberikan suara tertentu, para elector dapat memberi suara lain. 

2. Proporsi yang tidak seimbang

Beberapa suara pada negara bagian tertentu memiliki jumlah electoral votes yang lebih banyak dibandingkan negara bagain lainnya, hal ini menyebabkan kandidat untuk hanya berfokus pada area-area tersebut. 

3. Rumit

Sistem electoral college dapat dikatakan cukup rumit, dan banyak yang masih belum memahami secara lebih detil mengenai sistem tersebut, penduduk pada umumnya hanya memahami bahwa yang memiliki jumlah suara paling banyak akan memenangi pemilu, melainkan hal tersebut bersifat belum pasti dan masih dapat ditentukan oleh para elector.

Walaupun terdapat pro kontra dan permasalahan dalam pemilu AS pada tahun 2020 ini, diharapkan bisa menjadi titik pembelajaran dan angin segar untuk semua negara. 

Penulis: Nabila Tiara Adhani

1 komentar: